Setiap orang tentu pernah menginginkan pendengar yang baik, tak mengecilkan semangatnya, membenarkan emosinya, dan tentunya tak menghilang bahkan ketika ia sedang tak butuh sekalipun.
Kali ini aku benar benar resah prihatin akan rasa gundah dari mereka, yang hatinya patah. Mereka mampu bertahan sendirian dan juga sanggup menghadapi masalah, namun bukan berarti mereka sanggup diam tanpa menceritakan keresahan itu.
Manusia sekarang hidup dalam media yang terlalu hebat dengan pelagiat, aku sedikit kesal. Ia itu salah satu hal yang membuat minoritas terkucilkan. Karna seharusnya disna banyak teman yang mendengarkan dengan setia, lalu apa? Media bukan lagi tempat bercerita, media seperti ajang bergengsi, siapa yang bisa habiskan modal banyak dia seakan paling hebat dilihat, derajatnya berbeda, naik motor kere, naik mobil wow kece.
Jika saja kau telah mengikuti tulisan ku dari awal, aku yakin kau telah mengenalku. Memang agak berbeda nyatanya dan medianya. Karna nyatanya kita berbicra ketika ada masalah, jumpa ketika ada agenda. Dan sialnya di media aku adalah manusia beribu kata yang tak sanggup kau cerna, bersandiwara bagai pencipta kata.
Salam kenal jika kita tak sempat bekenalan ketika perjumpaan, yg sapa hanya di media, yg kebiasaannya menertawakan lewat kaca, mengunjing dan memuji melalui doa.
Percayalah ketika kau membaca ini aku sedang merindukan perjumpaan dengan mu, tatapan mu, gaya bicara yg berbeda dari bibir yang tak pernah kau racuni, bahkan aku sangat rindu mengingat kembali bagaimana awal perjumpaan kita? Apakah seperti kucing dan anjing, ataukah seperti belalang dan kupu-kupu atau mungkin kita sebagai semut yang sedang mengerjakan suatu proyek. Tak semua cukup ku ingat, kau masih mengingat itu bukan.
Aku rindu menanti sebagai apa kita mengawali pekenalan itu, berkabar dikolom komentar ya, atau boleh juga kemedia, bebas kemana aja, tapi jangan pura-pura gila karna itu memng kebiasan kita.